Haruskah Aku Ikut Nonton???

Jika dari postingan-postinganku, aku terlihat seperti anti karya produksi dalam negeri. Well, tidak sepenuhnya salah sih. Terus terang sudah sejak lama tidak pernah menonton program-program TV seperti sinetron dan sebagainya. Sinetron terakhir yang masih kuikuti adalah sinetron ‘Intan’ (2007) yang ternyata merupakan tiruan drama Korea Be Strong Geum Soon. WOW…sudah lama sekali ya!!!

Kalau sekarang menyalakan TV hanya untuk menonton infotainment dan Spongebob Squarepants hahaha. Dulu juga pernah mengikuti acara lawak yang tayang disalah satu stasiun TV swasta. Tapi sejak aku menemukan 1n2d, entah kenapa acara itu menjadi sangat garing. Tidak ada satupun lawakannya yang bisa membuatku tertawa. Padahal hanya dengan melihat kelakuaan Hodong dkk yang sebenarnya tidak terlalu lucu malah bisa tertawa sampai meneteskan air mata. Aku juga tidak tahu kenapa…Entah mungkin karena lawakan di acara itu memang sudah tidak lucu lagi atau memang ada yang salah dengan kantong tertawaku *teori Squidward Tentacle*. Yang jelas, sejak menemukan 1n2d, acara lawak apapun yang ada di TV itu terasa sama sekali tidak lucu alias sangat garing. Tapi khusus untuk Spongebob Squarepants tetap bisa tertawa ngakak saat melihat tingkah lucu Spongebob, Patrick dan si kaku Squidward. ㅋㅋㅋㅋㅋ

Eiiiit, bukan berarti aku sama sekali tidak menyukai hasil karya-karya anak dalam negeri. Aku juga suka membaca cerpen, novel dkk. Aku sudah membaca 2 cerpen yang merupakan bagian dari trilogi karya Esti Kinasih, dan sekarang sedang menunggu cerpen ketiganya terbit.

Beberapa hari yang lalu sempat menonton trailer film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

video credit to : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Miris dengan banyak yang berkomentar kalau film itu meniru film Titanic, hanya karena dibagian akhir ada adegan kapal tenggelam. Padahal film itu diangkat dari novel populer yang berjudul sama karya Hamka. Tapi, kita juga tidak bisa menyalahkan orang yang langsung berprasangka seperti itu, karena sudah terlanjur tertanam dipikiran kita kalau kebanyakan produksi dalam negeri itu adalah plagiat *ironis*.

Mungkin aku juga akan berprasangka yang sama jika saja aku tidak tahu tentang novel itu. Tapi karena aku sudah pernah membacanya jadi aku tidak punya pikiran begitu. Novel itu sangat berkesan bagiku karena itu adalah karya sastra pertama yang bisa kubaca sampai habis. Bahkan saking menghayatinya saat membaca sampai meneteskan air mata ㅠ_ㅠ

Dipikir-pikir, novel inilah yang membuka mataku kalau tidak semua karya sastra lama itu membosankan. Karena setelah membaca ini, aku mulai membaca karya sastra lainnya seperti Layar Terkembang, Azab dan Sengsara (kalau yang ini benar-benar membosankan), dan yang sejenisnya.

Balik lagi ke masalah trailer film itu. Sepertinya sih lumayan keren. Tapi aku masih tidak tahu apakah akan menontonnya atau tidak. Soalnya, sejauh ini aku selalu merasa kecewa saat menonton film yang diangkat dari novel karena terasa sangat berbeda dengan novelnya. Sebut saja Breaking Dawn, dan Dalam Mihrab Cinta.

Benar-benar tidak puas dengan Breaking Dawn, terasa beda jauh dengan versi novel. Sementara untuk Dalam Mihrab Cinta lebih parah lagi. Saking ‘keren’nya film itu, sampai-sampai pada adegan yang seharusnya cukup menyedihkan, malah tertawa hahaha.

Tahu sih kalau novel dan film itu pasti akan sangat berbeda. Bagaimanapun film yang hanya berdurasi kurang lebih 2 jam itu tidak akan mungkin bisa memuat hal-hal detail yang ada di novel yang sangat tebal itu. Tapi ya gitu deh… Mungkin bagi yang belum membaca novelnya, hal-hal seperti itu tidak akan bermasalah. Tapi bagi yang sudah, maka akan secara otomatis membandingkan apa yang ditonton dengan apa yang dibaca. Setidaknya aku begitu 🙂

Berbicara masalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini, memang memuat adegan tenggelamnya sebuah kapal yang secara sekilas memang mirip dengan film Titanic. Tapi inti ceritanya bukan ada dikapal itu. Adegan itupun hanya dibagian akhir. Sementara di Titanic, fokus ceritanya memang dikapal tersebut. Jadi memang jelas sangat berbeda. Bagi yang belum membaca novelnya, benar-benar disarankan untuk dibaca deh…Walaupun harus diakui bagian awal terutama sebelum Zainuddin, si tokoh utama bertemu dengan Hayati ceritanya sedikit membosankan, tapi tetap seru.

Karena aku masih ragu apakah akan menontonnya atau tidak, jadi bagi yang sudah menontonnya harap berbagi pendapatnya ya 😀

Advertisements

About diahaksaeng

Suka menonton drama-drama yang menarik
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Haruskah Aku Ikut Nonton???

  1. Mira Safira says:

    Betul. Tetralogi laskar pelangi yang super keren dan lucupun jadi garing begitu nonton filmnya. Memang sulit kayaknya bikin film dari novel.

  2. iuef says:

    Kalo baca yang main imajinasi kita sendiri, jd begitu dijadiin film pembandingnya imajinasi kita, walhasil lebih sering kecewanya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s