Queen of Badminton : Tai Tzu Ying

Hello…apa kabar semuanya?

Setelah sekian lama baru kali ini bisa posting kembali. Padahal sebenarnya banyak yang ingin kutuliskan diblog ini, tapi baru ini ada mood buat posting. Dari sejak Hwayugi tayang, sebenarnya sangat ingin membahas drama tersebut tapi tidak kesampaian sampai sekarang hehehe. Mungkin lain kali ya kalau mood menulis sudah kembali sepenuhnya 😛

Jika beberapa bulan yang lalu memang benar-benar sibuk, namun sekarang juga sedang disibukkan dengan aktivitas baru. Menonton pertandingan Tai Tzu Ying.

Aku memang sudah dari dulu senang nonton pertandingan bulu tangkis atau badminton. Tetapi dulu tidak ada atlet yang benar-benar dikagumi. Hanya sekedar menonton pertandingan terutama saat pemain Indonesia yang bertanding. Dari mulai jamannya Taufik Hidayat sampai sekarang Antony Ginting. Tapi ya begitu deh, tidak ada yang benar-benar menyangkut dihati. Well… kalau Lee Yong Dae itu lain cerita karena itu bisa dikatakan karena faktor wajah hihihi. Eh tapi sekarang Lee Yong Dae sedang digosipkan akan bercerai. Hmmmm… lah kok jadi kesitu ceritanya.

Sejak era Taufik, aku memang lebih senang menonton pertandingan badminton sektor tunggal putra atau bahasa kerennya men single (MS). Karena kalau nonton sektor ganda terutama ganda putra atau mens double (MD) itu permainannya terlalu cepat. Pusing aku melihatnya hahaha. Kalau sektor putri jangan ditanya dah… selain karena memang Indonesia sedang mengalami kemerosatan di sektor tersebut, permainannyapun tergolong membosankan. Seiring berjalannya waktu, Indonesia juga ternyata keteteran di sektor MS sehingga sangat jarang sekali kita mendengar prestasi badminton Indonesia di sektor tunggal putra. Sehingga aku mulai memperhatikan sektor ganda, baik itu ganda putra ataupun ganda campuran (Mixed Double, XD) karena Indonesia tergolong konsisten dalam menghasilkan atlet yang berprestasi di sektor tersebut, terutama sektor MD.

Selama beberapa tahun aku selalu mengikuti perkembangan MD Indonesia, sejak jamannya Markis Kido-Hendra Setiawan, kemudian Ahsan-Hendra sampai sekarang Marcus-Kevin atau yang juga dikenal sebagai Minion. Bagiku saat itu memang permainan sektor MD yang paling menarik. XD masih lumayanlah. Kalau Women Double (WD) memang tidak terlalu kuikuti karena jujur biasanya pertandingan WD memakan durasi yang terlalu lama dan dari segi tempo permainan memang lebih lambat dibandingkan dengan MD. Kalau sektor WD aja tidak aku lirik apalagi WS. Malas sekali aku menontonnya. Namun semua itu mulai berubah sejak aku mengenal Tai Tzu Ying.

Tai Tzu Ying  (dibaca Dai Zi Ying) atau TTY, atau biasa disapa dengan ceu Taty (oleh BL Indonesia tentunya hehehe) atau Xiao Dai (sapaan akrabnya) ini merupakan pemain bulu tangkis tunggal putri asal Taiwan yang sekarang menduduki rangking satu dunia.

TTY

Photo credit to : @tai_tzuying

All ENgland

TTY in action di All England,  credit to : @janegranular

Aku juga kurang tahu kapan tepatnya mulai suka dengannya. Karena jujur saja aku sudah lumayan familiar dengan namanya dari beberapa tahun yang lalu tapi memang tidak terlalu memberikan perhatian. Aku mulai mengikuti berita tentangnya setelah All England 2018 dimana dia berhasil mempertahankan gelar juaranya diturnamen tersebut. Entah kenapa waktu All England berlangsung, aku dari awal sudah menjagokan TTY untuk menang, meski kakakku lebih menjagokan Akane (lawan TTY di final) untuk menang. Padahal aku nonton live streaming menggunakan kuota kakakku hahaha. Maklum saja TV nasional jarang yang mau menayangkan siaran badminton. Mereka lebih senang menyiarkan sinetron-sinetron yang tidak jelas demi rating. Padahal kalau ditayangkan belum tentu juga ratingnya jelek. So, demi menonton langsung ya terpaksa live streaming. Loh kok malah curhat 😀

 

Sejak saat itu aku secara resmi mendeklarasikan diri sebagai fans TTY. *Apaan dah bahasanya. Mentang-mentang tahun politik, jadi ikut-ikutan deklarasi hahahaha*.  Akupun mulai mendownload hampir semua pertandingannya. Tentunya pertandingan yang TTY keluar sebagai pemenangnya hehehe. Sayangnya tidak semua pertandingannya ada video lengkapnya yang resmi dari BWF. Karena tidak semua pertandingan disiarkan secara langsung di channel BWF. Hanya pertandingan di court  1 atau TV court  yang akan disiarkan secara langsung. Itupun kita harus menggunakan VPN agar bisa mengakses channel youtube BWF tersebut. BWF tuh memang rada-rada menyebalkan. Untungnya biasanya pertandingan TTY yang sekarang sering masuk TV court, jadi mudah untuk menontonnya. Cuma ya harus siap-siap kuota. Curhat lagi deh hahaha.

Aku akan bercerita sedikit kenapa aku bisa begitu jatuh hati pada TTY. TTY mungkin tidak secantik Gronya Somerville atau Aya Ohori. Postur tubuhnya juga tidak tinggi seperti PV Sindhu atau Carolina Marin. Posturnya tergolong kecil untuk ukuran atlet badminton. Tetapi jangan salah, kecil-kecil begitu perutnya kotak-kotak hehehe. Tapi bukan itu yang membuatku suka padanya. Aku benar-benar suka gaya permainannya saat bertanding. Entah kenapa setiap pertandingannya itu terlihat benar-benar menarik dan tidak membosankan. Kalau menonton pertandingannya, bahkan Oma Gill, sapaan akrab BL indo untuk Gillian Clark (komentator BWF) sering melontarkan pujian berupa “Fantastic, amazing, a moment of magic, extraordinary, unbelievable atau I don’t believe it”. Yupp, kata-kata itu sering sekali terdengar jika kita menonton pertandingan TTY. Karena memang cara bermainnya yang sangat memukau siapapun yang menyaksikan. Sehingga sangat pantas sekali dia menduduki rangking 1 dunia hampir 2 tahun ini.

Hongkong 2017

denmark

Selain skill-nya yang benar-benar keren, TTY juga selalu tersenyum di lapangan baik dia dalam posisi unggul atau tertinggal poin. Bahkan saat dia melakukan kesalahan pukulan yang mengakibatkan poin untuk lawanpun kadang dia juga sering senyum-senyum sendiri hehehe. Menang atau kalah ekspresinya sama saja. Tidak ada selebrasi berlebihan saat dia menang. Mungkin karena udah keseringan juara kali ya hahaha. Eh, tapi dari dulu memang sudah begitu sih. Selain itu, kata Oma Gill, TTY tidak pernah membantah jika lawannya ingin minta pergantian shuttlecock. Bagi fans badminton pasti mengerti, terkadang saat bertanding, lawan meminta pergantian shuttlecock, dan banyak pemain yang menolak melakukannya karena itu termasuk dalam mind games untuk mempengaruhi emosi lawan. Tapi TTY tidak pernah melakukan itu. Sehingga Oma Gill dan Morten Frost pun kagum akan hal itu 😀

Meski memiliki postur kecil dan kadang bertingkah seperti anak kecil, tapi jika saat bertanding kadang bisa terlihat seperti preman loh. Selain memiliki pukulan-pukulan unik, TTY kalau sudah di depan net benar-benar terlihat ganas, sering memukul cock dengan sangat keras sehingga mematikan lawan tanpa ampun.

Walau di lapangan kadang terlihat seperti preman (apalagi saat Asian Games 2018 kemarin, benar-benar seperti preman pasar yang tak memberi ampun pada lawan-lawannya hahaha), tapi di luar lapangan sebenarnya dia sangat lucu. Semua itu bisa kita lihat di video-video wawancaranya atau dari foto-foto yang diunggahnya di akun instagram pribadinya @tai_tzuying

Sedikit bercerita tentang latar belakang TTY dari pengetahuanku yang terbatas  karena kebanyakan artikelnya berbahasa mandarin dan aku sama sekali tidak bisa baca tulis huruf kanji T_T

Tai Tzu Ying, kelahiran 20 Juni 1994, merupakan anak kedua dari 2 bersaudara (sepertinya) dari keluarga yang memang penggila badminton. Ayahnya yang merupakan seorang pemadam kebakaran sangat senang bermain badminton diwaktu senggangnya. Dari situlah awal TTY mengenal olahraga yang membuat namanya menjadi salah satu atlet paling populer di Taiwan. Meskipun dari kecil sudah ikut bermain badminton bersama orang tuanya, namun TTY baru memutuskan untuk benar-benar menjadi atlet badminton profesional pada umur 9 tahun. TTY memutuskan demikian karena dia malas belajar ckckck. (Eh, tapi sekarang dia sudah lulus S2 loh hmmmm). Keputusannya itu tentu saja mendapat dukungan 100% dari keluarganya terutama sang ayah yang langsung mencarikan sekolah yang bagus dibidang olahraga untuk putrinya agar dapat mewujudkan mimpinya. Bahkan saat sang guru menyuruh TTY untuk bermain disektor ganda putri (WD), sang ayah tetap pada pendiriannya kalau TTY harus main disektor tunggal. Dan ternyata keputusan sang ayah memang sangat tepat, karena sekarang TTY adalah the world No. 1 di sektor WS. Demi menunjang karier sang anak, ayahnya juga mencarikan pelatih pribadi untuk anaknya. Jadi jangan heran kalau selama ini pelatih TTY itu tidak terlihat mendampingi pemain Taiwan yang lain karena dia adalah personal coach TTY. Maksudnya mutlak milik TTY hehehe. Eh, tapi sekarang katanya pelatihnya sudah diangkat sebagai kepala pelatih tim nasional Taiwan sampai Olimpiade Tokyo 2020.

TTY mulai menduduki rangking 1 dunia sejak minggu pertama desember 2016. Sejak saat itu dia memang terlihat sangat dominan disektor WS. Bagaimana dengan periode sebelumnya? Well, dari awal kemunculannya dikancah internasional terutama dilevel Superseries (turnamen level atas untuk badminton, sekarang sudah diganti dengan nama World Tour), TTY sudah menarik perhatian banyak orang, terutama Oma Gill yang tak henti-hentinya komen tentang itu terus-menerus. Sampai bosan aku mendengarnya karena hampir disetiap pertandingan TTY selalu ada komen begitu dari Oma Gill hahaha. Kata Oma Gill, TTY memulai debut Superseries pertamanya di Singapore Open 2010. Saat itu TTY yang masih berumur 15 tahun memulai pertandingan dari babak kualifikasi. Karena memang sudah berbakat, TTY lolos kebabak final dan berulang tahun yang ke-16 pada hari final tersebut. Sehingga TTY memegang rekor sebagai finalis termuda dilevel Superseries sampai sekarang untuk semua kategori. Meski dia tidak berhasil difinal Superseries pertamanya tersebut, namun bagi TTY turnamen tersebut sangat berkesan karena seluruh stadium merayakan ulang tahunnya.

TTY meraih gelar Superseries pertamanya di tahun 2012 yaitu diturnamen Japan Open. Kemudian dilanjutkan dengan Malaysia Open 2013 (waktu itu masih belum level Premier). Ditahun 2013 juga TTY sudah berhasil lolos ke Superseries Finals yaitu turnamen akhir tahun yang diselenggarakan oleh BWF yang hanya diikuti oleh 8 pemain/pasangan dengan perolehan poin tertinggi ditahun tersebut. Meski tahun itu, TTY hanya berhasil keluar sebagai Runner-Up. Tapi dengan usia yang masih sangat muda sudah berhasil lolos ke turnamen yang cukup bergengsi dan maju sampai ke babak final itu merupakan pencapaian yang luar biasa. Tidak bermaksud membanding-bandingkan, tapi liat pemain WS negara kita sekarang, jangankan gelar Superseries (sekarang sekelas World Tour Super 500), World Tour Super 300 dan 100 saja tidak ada gelar. Ah sudahlah…

Tahun 2014 TTY baru mendapatkan gelar diturnamen Superseries terakhir yaitu Hongkong Open. Ditahun ini juga dia lolos ke Superseries Finals yang mulai tahun 2014-2017 diselenggarakan di Dubai. Diturnamen ini, TTY berhasil menebus kekalahannya ditahun sebelumnya dengan keluar sebagai juara. Setelah menjuarai Superseries Finals, TTY tidak terlalu bersinar dimusim 2015. Tidak ada gelar yang didapatnya ditahun itu. Karena meski TTY jelas terlihat berbakat, namun dia masih kurang konsisten dalam setiap pertandingannya. Dan satu lagi, TTY itu juga bisa dikatakan sebagai ratu error. Kebanyakan poin yang didapat lawan itu karena kesalahannya sendiri atau dalam bahasa Oma Gill itu Unforced error. Jadi begitulah. Meski tetap lolos ke Superseries Finals, namun TTY harus terhenti dibabak grup.

Bagi yang sudah mengikuti perkembangan badminton sejak lama pasti tahu kalau dulu penampilan TTY itu agak gembul, rada-rada mirip Akane gitu lah hihihi. Namun sejak awal 2016, karena dia fokus untuk olimpiade Rio waktu itu, jadinya dia mulai membentuk tubuhnya sehingga terbentuklah perut kotak-kotaknya sampai sekarang. Dengan bentuk tubuh yang demikian, pergerakannya di lapangan menjadi semakin lincah mengantarkannya sebagai juara di turnamen Indonesia Open yang merupakan  gelar Superseries Premier pertamanya. Saat menonton video pertandingannya di turnamen ini, penampilannya benar-benar terlihat seperti preman deh wkwkwk.

Thanks to kontroversi yang dialaminya, sehingga dia harus terhenti dibabak awal Olimpiade Rio. Makanya jadi atlet jangan penuh kontroversi ceu hehehe. Tapi sejak saat itu, dia kembali dengan lebih meyakinkan. Memenangkan gelar Hongkong Open kembali dan membuatnya naik ke puncak rangking. Masih ditahun yang sama dia juga memenangkan kembali gelar Superseries Finals. Tren kemenangan tersebut masih terus berlanjut ke musim 2017 dimana TTY berhasil memenangkan 3 gelar Superseries pertama yang diikutinya diawal tahun mulai dari All England, Malaysia Open dan Singapore Open. Kemudian gelar Kejuaraan Asia juga didapatkannya ditahun yang sama.

Keputusan kontroversial kembali diambilnya dengan memilih untuk absen di Kejuaraan Dunia 2017 yang diadakan di Glasgow. TTY lebih memilih untuk mengikuti Universiade yang diadakan di Taiwan, negaranya sendiri, dimana dia berhasil menyumbangkan 2 medali emas untuk negaranya. Tahun 2017 ditutup dengan ditambahkan 2 gelar lagi yaitu French Open dan Hong Kong Open.

Tren positif 2017 dilanjutkan kembali ditahun 2018. TTY mengawali pertandingan musim 2018  cukup baik dengan menjadi runner-up  di Malaysia Masters Super 500, dan juara di Indonesia Masters Super 500 yang diadakan 2 minggu berturut-turut. Maret 2018, TTY berhasil mempertahankan gelar All Englandnya (Level Super 1000). Tren kemenangan ini terus berlanjut sampai 4 turnamen berikutnya, yaitu Badminton Asia Championship (BAC), Uber Cup, Malaysia Open Super 750, dan Indonesia Open Super 1000. Sayang TTY harus terhenti di babak perempat final pada Kejuaraan Dunia yang diadakan di Nanjing, China. Dengan demikian TTY berhasil mencatat rekor winning streak terbanyak, yaitu sebanyak 31 pertandingan.

Kekalahan di Kejuaraan Dunia tidak membuat TTY berputus asa. Dia menjadikan itu sebagai cambuk untuk menjadi lebih baik. Hal itu ia buktikan pada Asian Games yang kembali dihelat di Istora Senayan Jakarta, dia berhasil menyumbangkan medali emas pertama sepanjang sejarah Asian Games dari cabang badminton bagi negaranya.

asian games

Dua turnamen selanjutnya yang diikuti TTY adalah Japan Open Super 750 dan China Open Super 1000 yang dilaksanakan pada 2 minggu beruntun dibulan september. Sayang pada turnamen ini, TTY harus pulang lebih cepat karena menderita kekalahan dibabak awal. Namun kekalahan tersebut ditebusnya dengan merebut gelar juara di rumahnya sendiri yaitu di Chinese Taipei Open Super 300. Kemudian dilanjutkan dengan gelar Denmark Open Super 750. Namun sayang, TTY gagal mempertahankan gelar juaranya di French Open Super 750 dan harus puas sebagai runner-up karena harus menyerah kepada Akane Yamaguchi dibabak final yang dilangsungkan tepat seminggu setelah kemenangannya di Denmark.

Setelah itu, TTY memutuskan untuk wihtdrawn atau mengundurkan diri dari Fuzhou China Open Super 750 dan lebih memilih untuk beristirahat karena memang jadwal pertandingan yang cukup padat. Kemudian dia mengikuti turnamen Hong Kong Open Super 500, dimana statusnya sebagai juara bertahan. Sayang sekali pada turnamen ini TTY harus retired  saat melawan Nozomi Okuhara di babak semifinal karena cedera.

Turnamen terakhir yang diikuti TTY ditahun 2018 adalah World Tour Finals (yang dulu bernama Superseries Finals) yang diadakan di Guangzhou. Sayang sekali, pada turnamen inipun TTY harus kembali retired saat menjalani pertandingan melawan Akane Yamaguchi karena menderita cedera.

Sekian ringkasan perjalanan karier seorang Tai Tzu Ying selama beberapa tahun ini. Semoga di tahun ini bisa lebih baik lagi ya my queen 😀

Sebenarnya semua pertandingan TTY itu seru ditonton, baik dia menang maupun kalah. Tapi kalau kalah ya, agak tidak tega nontonnya. Meskipun TTY sendiri orangnya santai, mau menang kalah dia biasa saja. Tapi ya sebagai fans kan tetap saja ada rasa sedih melihat sang idola kalah hehehe. Nah, ini ada beberapa pertandingan TTY yang aku rekomendasikan buat kalian tonton yang menurutku the best of the best lah… 😀

Final Hong Kong Open 2016 vs PV Sindhu

Final All England 2017 vs Ratchanok Intanon (Ini benar-benar high quality badminton)

Final Malaysia Open 2017 vs Carolina Marin (Video di BWF Youtube Channel, perlu vpn)

Final All England 2018 vs Akane Yamaguchi

SF Malaysia Open 2018 vs PV Sindhu

Final Denmark Open 2018 vs Saina Nehwal (Video di BWF Youtube Channel, perlu vpn)

SF French Open 2018 vs Chen Yufei

QF Hong Kong Open 2018 vs Carolina Marin

 

Selamat Menonton!

 

About diahaksaeng

Suka menonton drama-drama yang menarik
This entry was posted in Badminton and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s